**FREEDOM is the GLORY OF ANY NATION. INDONESIA for INDONESIANS**FREEDOM is the GLORY OF ANY NATION. INDONESIA for INDONESIANS**FREEDOM is the GLORY OF ANY NATION. INDONESIA for INDONESIANS**FREEDOM is the GLORY OF ANY NATION. INDONESIA for INDONESIANS**

Anda Pengunjung ke:

Minggu, 27 November 2011

Melepas untuk Mendapatkan

Oleh: Yoehan Rianto Prasetyo
Allah will never leave us empty, He will replace everything we have lost, If He asks us to put something down, It is because He wants us to pick up something greater.....

Allah akan tidak pernah meninggalkan kami kosong, dia akan menggantikan segala sesuatu yang kita telah kehilangan, jika ia meminta kita untuk meletakkan sesuatu, karena dia ingin kita untuk mengambil sesuatu yang lebih besar.....

diambil dari status: http://www.facebook.com/QUL.HU.ALLAHHU.AHAD

sudah seharusnya menjadi suatu kesadaran bagi tokoh-tokoh politik Indonesia untuk kembali memikirkan nasib bangsa ini secara keseluruhan, tidak lagi bersikap pragmatis yang pada dasarnya (juga) hanya mengedepankan kepentingan golongan, bukan keseluruhan.

Belajar dari sejarah, para tokoh pendiri bangsa yang dengan iklas melepas kepentingan pribadi dan golongan untuk melaksanakan kepentingan secara keseluruhan, untuk melaksanakan cita-cita besar yang disepakati bersama.

... kita harus menyadari, bahwa para pemimpin kita dahulu sepakat untuk merdeka, sedangkan mengenai hal-hal lain akan ditetapkan kemudian. Jadi memang terasa betapa penting sikap yang diambil bersama-sama oleh para elite bangsa kita di masa itu. Tanpa adanya sikap seperti ini, kita mungkin belum merdeka, hingga hari ini (Gus Dur dalam kolom "Membaca Sejarah Lama (3)".

Kepentingan-kepentingan pragmatis pada dasarnya memang tidak memiliki pengaruh apapun terhadap pembangunan bangsa, disatu sisi kepentingan semacam ini mencoba menjawab persoalan-persoalan secara cepat dan praktis, tapi tentunya ada pihak yang harus dikorbankan, sebab, meskipun seringkali dikatakan netral, pemecahan masalah secara pragmatis pada dasarnya memihak-tentu memihak kelompok yang kuat, dengan begitu pemecahan pragmatis sebenarnya juga ideologis, sebab melaksanakan kepentingan-kepentingan kelompok tertentu dalam suatu pemecahan masalah. Dan pastinya hanya menguntungkan pihak tersebut dengan mengorbankan salah satu pihak.

Jadi, sudah cukup jelas, penyelesaian masalah secara pragmatis adalah tidak netral. Pragmatisme ternyata adalah ideologi terselubung, tentunya dikatakan ideologi sebab melaksanakan gagasan dan kepentingan kelompok tertentu.

Pembangunan secara ideologis sudah jelas tidak dapat diterima, sebab jelas-jelas (dan secara terang-terangan) melaksanakan gagasan individu/kelompok tertentu, bukan atas keseluruhan.

Pembangunan haruslah atas keseluruhan, pemecahan masalah-masalah sosial seharusnya merupakan tanggung jawab bersama dan menjadi kepentingan bersama. Tentunya benar-benar atas dasar kepentingan bersama. Inilah keadilan.

Pada akhirnya, melepas kepentingan pribadi untuk melaksanakan kepentingan dan tanggung jawab bersama, menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Allah tidak akan meninggalkan kami kosong, Allah SWT tidak akan menelantarkan kita, Allah SWT. akan mengganti segala yang hilang dengan yang lebih baik, kerelaan melepas untuk mengambil sesuatu yang besar. Tentu, cita-cita besar bagi bangsa yang besar, Indonesia merdeka 100%.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar