**FREEDOM is the GLORY OF ANY NATION. INDONESIA for INDONESIANS**FREEDOM is the GLORY OF ANY NATION. INDONESIA for INDONESIANS**FREEDOM is the GLORY OF ANY NATION. INDONESIA for INDONESIANS**FREEDOM is the GLORY OF ANY NATION. INDONESIA for INDONESIANS**

Anda Pengunjung ke:

Minggu, 27 November 2011

MANIPOL/USDEK - GERPOLEK, Indonesia berdaulat

Oleh: Yoehan Rianto Prasetyo
saya tidak begitu mengerti maksud dari MANIPOL/USDEK yang digelorakan oleh Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin, selain bahwa MANIPOL/USDEK adalah akronim dari Manifesto politik / Undang-undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia.

Istilah 'manifesto' sendiri yang saya ketahui adalah pernyataan sikap suatu kelompok atau seseorang yang diumumkan kepada publik dan sering bermuatan politis, salah satunya ya MANIPOL/USDEK ini.

MANIPOL/USDEK merupakan satu-kesatuan dengan Pancasila, boleh dikata: Pancasila pedomannya, MANIPOL/USDEK pelaksanaannya.

Sosialisme Indonesia, meskipun nanti mungkin ada yang kurang setuju saya malah teringat dengan Marhaenisme nya Soekarno yang ia katakan juga sebagai sosialismenya Indonesia: Sosialisme yang telah disesuaikan dengan kondisi dan wataknya orang Indonesia, dan saya yakin, yang dimaksud Soekarno dengan sosialisme Indonesia ini adalah Marhaenisme yang terdiri dari: Sosionasionalism (nasionalisme yang tidak hanya sekedar mencintai tanah airnya, tapi lebih mendasarkan diri pada kecintaan terhadap rakyat jelata) dan Sosiodemokrasi (demokrasi yang tidak hanya mengatur kehidupan politik saja, tapi juga mengatur kehidupan ekonomi dan sosial-budaya).

Demokrasi Terpimpin adalah demokrasi yang dicetuskan oleh Soekarno dengan latar belakang: (1) dari segi keamanan, banyaknya gerakan sparatis pada masa demokrasi liberal, menyebabkan ketidakstabilan di bidang keamanan. (2) dari segi perekonomian, Sering terjadinya pergantian kabinet pada masa demokrasi liberal menyebabkan program-program yang dirancang oleh kabinet tidak dapat dijalankan secara utuh, sehingga pembangunan ekonomi tersendat. (3) dari segi politik, Konstituante gagal dalam menyusun UUD baru untuk menggantikan UUDS 1950.

Ekonomi Terpimpin, saya juga kurang paham apakah sistem ini merupakan sistem ekonomi yang pernah dirumuskan oleh Bung Hatta yang merupakan konsekuensi dan nasionalisme yang timbul sebagai bentuk dari perlawanan menentang kolonialisme dan imperialisme. Prinsip ekonomi terpimpin sejalan dengan sila ke-5 pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dikarenakan adanya pemerataan pembagian kesejahteraan di semua lapisan masyarakat dan mereka dapat merasakannya. Ekonomi terpimpin serupa dengan ekonomi sosialis. Menurut Bung Hatta ekonomi terpimpin merupakan rival dari sistem ekonomi liberal.

Kepribadian Indonesia, jadi teringat pula trilogi ajaran Soekarno yang lebih dikenal dengan istilah 'Trisakti' yaitu (1)berdaulat dibidang politik (2)Berdikari dibidang ekonomi dan (3)kepribadian dalam kebudayaan yang berarti bangsa Indonesia mengembangkan kebudayaan dari nilai-nilai Indonesia yang terbentuk sepanjang sejarahnya dari zaman pra sejarah, zaman Hindu, zaman Islam dan zaman modern. Di samping itu bangsa Indonesia membentuk kebudayaannya berdasarkan ideologi Pancasila. lebih lanjut mengenai Pancasila, yang menurut Soekarno dapat diperas menjadi trisila: sosiodemokrasi, sosionasionalisme dan keTuhanan dan menjadi Eka sila: Gotong royong, dan gotong royong inilah kepribadiannya orang Indonesia, bukan berkoalisi ataupun beroposisi tapi 'gotong royong'.

mengenai GERPOLEK yang juga merupakan akronim dari Gerilya-Politik-Ekonomi yang dirumuskan oleh Tan Malaka dengan semboyannya yang terkenal: Indonesia merdeka 100%!!!

Dalam hal ini Tan Malaka yang sedang berada dalam penjara Madiun merisaukan kondisi Indonesia yang baru diproklamasikan telah di'preteli' wilayahnya menjadi berbagai negara boneka bentukan Belanda, bagi Tan Malaka "kemerdekaan rakyat Indonesia baru tercapai bila kemerdekaan politik 100% berada di tangan rakyat Indonesia..."

Buku yang ditulis Tan Malaka ini merupakan buku panduan perang, Tan Malaka seperti halnya Jenderal Soedirman bersikeras dengan konsep perang semesta-gerilya, dan Tan Malaka benar-benar sedang menentang diplomasi berunding yang digagas oleh Sjahrir dan dijalankan oleh Soekarno-Hatta, menurutnya berunding hanyalah sikap mengorbankan kedaulatan, kemerdekaan, daerah perekonomian dan penduduk. Baginya diplomasi bambu runcing adalah yang terbaik daripada diplomasi berunding.

Pihak yang melanggar kedaulatan adalah agresor yang patut dan layak untuk diperangi, meskipun agresor itu adalah saudara sebangsa~toh nyatanya sudah cukup banyak fakta bagaimana kedaulatan bangsa ini digadaikan oleh segelintir rakyatnya yang serakah dan bodoh.

1 komentar: