**FREEDOM is the GLORY OF ANY NATION. INDONESIA for INDONESIANS**FREEDOM is the GLORY OF ANY NATION. INDONESIA for INDONESIANS**FREEDOM is the GLORY OF ANY NATION. INDONESIA for INDONESIANS**FREEDOM is the GLORY OF ANY NATION. INDONESIA for INDONESIANS**

Anda Pengunjung ke:

Jumat, 20 Juli 2012

Kiri Islam, Islam dan sosialisme

Dalam setiap pembicaraan mengenai sosialisme-alih alih membuat perbandingan, yang terjadi malah mengungkap pertentangan dua sisi (Islam dan sosialisme) yang tidak memiliki dasar kuat. Sering terjebak dalam pandangan bahwa sosialisme seluruhnya adalah Marxime-leninisme (komunis).

Sosialisme, muncul sebagai reaksi terhadap kondisi buruk yang dialami rakyat di bawah sistem kapitalisme-liberal yang tamak dan murtad. Kondisi buruk terutama dialami kaum pekerja atau buruh yang bekerja di pabrik-pabrik dan pusat-pusat sarana produksi dan transportasi. Sejumlah kaum cendekiawan muncul untuk membela hak-hak kaum buruh dan menyerukan persamaan hak bagi semua lapisan, golongan dan kelas masyarakat dalam menikmati kesejahteraan, kekayaan dan kemakmuran. Mereka menginginkan pembagian keadilan dalam ekonomi Di antara tokoh-tokoh awal penganjur sosialisme dapat disebut antara lain: St. Simon (1769-1873), Fourisee (1770-1837), Robert Owen (1771-1858) dan Louise Blane (1813-1882). Setelah itu baru muncul tokoh-tokoh seperti Proudhon, Marx, Engels, Bakunin dan lain sebagainya.

Pada akhir abad ke-19 sosialisme dan berbagai alirannya mulai mendapat penerimaan luas di Eropa. Ini disebabkan karena mereka tidak hanya melontarkan ide-ide dan mengembangkan wacana di kalangan intelektual dan kelas menengah, tetapi juga terutama karena mengorganisir gerakan-gerakan bawah tanah yang radikal dan bahkan revolusioner.

Walaupun faham sosialisme atheis ditolak oleh para cendikiawan dan ulama, sejumlah cendekiawan Muslim sendiri memandang bahwa dalam Islam sebenarnya terkandung ajaran ‘semacam sosialisme’. Ajaran ini tidak hanya terpendam sebagai cita-cita, tetapi malah telah dipraktekkan pada masa hidup Nabi dan khalifah al-rasyidin. Di antara cendikiawan Muslim abad ke-20 yang mengemukakan hal ini ialah Mohamad Hatta dan Muhammad Husein Heikal.

Bung Hatta menyatakan “Jiwa Islam berontak terhadap kapitalisme yang menghisap dan menindas, yang menurunkan derajat manusia, yang membawa sistem yang lebih jahat daripada perbudakan, daripada feodalisme. Dunia ini kepunyaan Allah semata-mata yang disediakan untuk tempat kediaman manusia sementara, dalam perjalanannya menuju dunia baka. Kewajiban manusia tidaklah memiliki dunia, yang kepunyaan Allah, melainkan memeliharanya sebaik-baiknya dan meninggalkannya (mewariskan) kepada angkatan kemudian dalam keadaan yang lebih baik dari yang diterimanya dari angkatan terdahulu.”

Sebelumnya dalam risalahnya “Persoalan Ekonomi Sosialis Indonesia” (1963) Bung Hatta menulis: “Sekarang, bagaimana duduknya sosialisme Indonesia? Cita-cita sosialisme lahir dalam pangkuan pergerakan kebangsaan Indonesia. Dalam pergerakan yang menuju kebebasan dari penghinaan diri dan penjajahan, dengan sendirinya orang terpikat oleh tuntutan sosial dan humanisme – perikemanusiaan – yang disebarkan oleh pergerakan sosialisme di benua Barat… Tuntutan sosial dan humanisme itu tertangkap pula oleh jiwa Islam, yang memang menghendaki pelaksanaan … perintah Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta Adil, supaya manusia hidup dalam sayang menyayangi dan dalam suasana persaudaraan dengan tolong-menolong”.

Adapun Kiri Islam dari Hassan hanafi yang pada dasarnya merupakan kritik terhadap borjuasi yang diterapkan pangeran-pangeran Arab. Hassan Hanafi meluncurkan jurnal berkalanya: Al-Yasar al Islami: Kitabat fi an Nahdhah al Islamiyyah (Kiri Islam: Beberapa esai tentang kebangkitan Islam) pada tahun 1981 setelah kemenangan revolusi Islam di Iran. Hassan Hanafi menggambarkan adanya kecenderungan kooptasi agama oleh kekuasaan, dan praktik keagamaan diubah menjadi semata-mata ritus. Hassan Hanafi melihat kecenderungan ini terjadi hanyalah sebagai topeng untuk menyembunyikan feodalisme kesukuan dan kapitalisme kesukuan. Liberalisme pun tidak luput dari sasaran kritik kiri Islam, meskipun secara teori, liberalisme adalah anti kolonial, tapi liberalisme sendiri merupakan produk kolonialisme Barat. Faktanya liberalisme sendiri hingga kini didukung oleh suatu kelas yang mengendalikan kesejahteraan nasional.

Kiri Islam bukanlah muslim berbaju marxis, sebab ia juga hadir sebagai kritik terhadap marxisme, dalam pembelaannya yang memperjelas kehadiran kiri Islam adalah sebagai bentuk perjuangan yang mengusik kemapanan politik dan agama. Isu utamanya adalah kolonialisme, kapitalisme dan zionisme yang telah mengkotakkan Islam dalam permasalahan-permasalahan akut seperti kemiskinan, penindasan dan keterbelakangan. Jadi jelas bahwa Kiri Islam tidak memncapur adukkan perjuangannya dengan pandangan sosialis meskipun dapat dikatakan memiliki permasalahan yang sama.

Memang kecenderungan atheisme yang terdapat dalam faham sosialisme modern dengan sendirinya akan ditolak oleh masyarakat beragama. Akan tetapi beberapa aspek dari pemikiran kaum sosialis seperti keadilan sosial itu tidak ditolak. Di kalangan cendekiawan Muslim tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa dalam Islam sebenarnya terdapat pula ajaran yang sejalan dengan pokok-pokok pemikiran yang dikemukakan oleh sosialisme modern. Di antara tokoh-tokoh Islam yang berpendapat demikian antara lain ialah Muhammad Iqbal dan Muhammad Husein Heikal. Di Indonesia, sosialisme religius telah dianjurkan sejak awal abad ke-20 oleh tokoh-tokoh seperti Cokroaminoto pada tahun 1905 (bukunya Islam dan Sosialisme) dan K. H. Agus Salim. Cokroaminoto memandang sistem kapitalisme yang dibawa oleh pemerintah Hindia Belanda di Indonesia merupakan bentuk dari “Kapitalisme Murtad”. Adapun Haji Misbach yang sering disebut Haji Merah lebih memilih komunisme dalam perjuangannya, disamping ia juga berpendapat bahwa slam dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan, Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.

Kiri Islam dan Sosialisme dalam kehadirannya menyerukan tentang keadilan sosial, ia tidak muncul dari keadaan hampa yang mengada-ada, ia mencoba menjawab setiap ketimpangan hasil kapitalisme-liberalistis lewat kritik sekaligus menyerang praktek borjuasi. Borjuasi meskipun memberi kesan tudingan terhadap suatu kelas tertentu dalam masyarakat, tapi juga adalah gaya hidup yang pada dasarnya dalam ajaran Islam mendapat tentangan dan merupakan hal yang patut dijauhi, sebagaimana yang disebutkan dalam Surat At Takatsur (saya tidak memiliki kewenangan dalam membahas terjemahannya) yang kurang lebih memuat larangan untuk hidup bermegah-megahan.

Begitupun dengan jargon "rahmatan lil'alamin" yang menyatakan kehadiran Islam sebagai "rahmat sekalian alam" yang bagi saya sendiri juga membawa semangat egalitarian yang menentang bentuk kelas sosial, dimana tidak terdapat penghisapan manusia oleh manusia. Hanyalah fatamorgana duniawi yang menghasut orang untuk terlena dalam kekuasaan dan kemegahan. Tentang agama sebagai ujung tombak politik, bolehlah kita buka suatu diskusi untuk mencari jalan kesepakatan menuju suatu tatanan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera yang benar-benar mempraktekkan jargon "rahmatan lil'alamin" bukan "kapitalisme lil'alamin" apalagi "syahwatan lil'alamin". salam.

Jumat, 29 Juni 2012

motivasi dari tembang "lir-ilir"

Sambil ngopi menikmati damainya pagi saya nyetel lagu "lir-ilir" versinya Cak Ainun Nadjib yang dicampur aduk sama shalawat badar, tentu banyak yang telah mendengar lagu ini dan tidak sedikit yang hafal dengan lirik lagu yang konon diciptakan oleh Sunan Kalijogo, salah satu dari Wali Songo-penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

Dapatlah saya bayangkan bagaimana situasi saat pertama sekali lagu ini diperkenalkan kepada masyarakat yang masih memegang teguh adat-tradisinya. Sejenak memang seperti sebuah ajakan untuk berkumpul dalam suatu pertemuan-lebih dari itu saya membayangkan adanya sekumpulan masyarakat dengan diskusi-diskusi yang tidak dibatasi oleh status sosial (bolehlah saya mereka-reka gambaran sejarahnya). Seperti dialog punakawan dalam memecahkan persoalan yang dihadapi oleh petinggi-petinggi wayang. Sangat proletar kalau boleh saya bilang meskipun saya tidak pernah tahu menahu soal seni dan sejarah.

Tentu sebagai orang yang awam saya juga mengerti tentang adanya "isi sampaian" dalam suatu karya, termasuk juga dalam lagu "Lir-ilir" ini. Selain gambaran yang tiba-tiba memenuhi isi kepala, juga tentang misi motivasi yang saya tangkap dalam lagu tersebut. Berikut syair lagunya:

Lir ilir lir ilir tandure wis sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar
Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira
Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir
Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Sun suraka surak hiyo

Berikut (kurang-lebih) dalam bahasa Indonesia:
Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…

"Lir-ilir" memberi motivasi untuk segera bangkit, yang berilmu jangan hanya jadi "petapa", jadilah teladan bagi yang lain. Yang muda bangkit mencari ilmu, kebodohan tidak akan dapat lenyap tanpa adanya aksi. Bangkit membangun diri, bangkit membenahi diri untuk membenahi bangsa. bangkit bekerja, mengabdi di jalan Allah."Lir-ilir, tandure wis sumilir" yang berarti bangkitlah, waktunya telah tiba, inilah, kinilah saatnya bangkit dan berbenah. "Tak ijo royo royo", segar menghijau seperti tanaman muda yang bersemi, diliputi semangat untuk bekerja-membangun dan berbenah. "Tak sengguh panganten anyar" seperti menyambut kehadiran pengatin baru, membangun satu keluarga/kekeluargaan (gotong royong).

"Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi, Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira." Dimaksud disini adalah pemimpin. Orang yang mampu menjadi imam yang baik yang mengajarkan syari’at Islam. Dan belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima rukun Islam. Disamping itu, tiap-tiap orang adalah pemimpin, pemimpin bagi diri sendiri dan pemimpin bagi yang lain (terkait dengan keteladanan). "lunyu-lunyu penekna, kanggo mbasuh dodotiro", susah-sulit tuntunlah, beri keteladanan untuk senantiasa berbenah.

"Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir", sisihkan sifat / tradisi / kebiasaan yang sudah tidak lagi bermanfaat, yang buruk, yang merugikan hendaklah dihilangkan, jangan terus dipelihara dan bahkan dilestarikan. "Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore" benahi yang sudah ada, lengkapi yang kurang, sepertinya berkaitan dengan pembenahan/pembangunan akhlak-moralitas dari tiap-tiap generasi, yang sudah ada (ditemukan) dan dianggap baik dan bermanfaat dipertahankan dan lengkapi lagi ilmu agar sempurna yang telah ada.

"Mumpung padang rembulane, Mumpung jembar kalangane, Sun suraka surak hiyo" mumpung masih ada kesempatan untuk berbenah, setiap waktu adalah saat untuk berbenah dengan senantiasa menyambut pengetahuan dengan bersuka/ hati terbuka.

Demikian yang ada dalam otak saya ketika mendengar lagu "lir-ilir", yang mungkin belum sepenuhnya sempurna, saya anggap "belum sempurna" sebab apa yang saya pikirkan ini masih juga perlu dibenahi (dilengkapi) dengan sudut pandang lain. Semoga bermanfaat. salam.